jump to navigation

Pintu Riya’ yang Ke-5: Memamerkan Ibadah dengan Ucapan-Ucapan yang Sangat Halus dan Lembut April 12, 2014

Posted by Mas Odi in Uncategorized.
trackback

Syukur Alhamdulillah kita bisa masuk ke pintu riya’ yang ke 5 ini. Singkat kata pintu riya’ kali ini bisa dikatakan sebagai penjabaran lebih lanjut dari pintu riya’ yang ke 1 dan ke 2. Sepertinya kian hari kita akan masuk ke cabang-cabangnya saja. Tapi itu termasuk penting. Studi kasus tentang macam-macam pintu riya’ yang bisa saja kita luput darinya. Jika ini sebagai pengingat tentunya perlu ketulusan dari kita untuk menyelami isi bacaan. Tapi jika ini hanya referensi tentu yang harus kita ingat adalah bagaimana cara ampuh untuk menangkal virus-virus riya’ masuk kedalam jiwa-jiwa kita. Hal yang paling mudah dipahami adalah beribadah dengan pikiran, hati, dan jasad yang sepenuhnya menghadap kepada Allah sahaja. Dan apa saja yang ada di sekeliling kita tidak diperdulikan, bahkan tidak boleh terlintas sedikitpun di pikiran kita.

Oke! Untuk bahasan kali ini pembahasan akan difokuskan pada permasalahan seseorang yang beribadah dengan ikhlas dan tidak ingin mencolok, tapi, ketika melihat orang lain di sekelilingnya maka timbul rasa ingin tampil bagus dengan niat tidak ingin mengecewakan orang lain yang sedang melihatnya. Dia berpikiran bahwa orang lain yang melihatnya jangan sampai mengatakan, “Ah! Dia orangnya biasa aja!”, tapi berharap mengatakan, “Dia ibadahnya sungguh-sungguh”. Lalu dia pun memperbagus sisi intonasinya jika mengucapkan kata-kata. Memperhalus dan memperlembutkan sikap dan perkataan juga. Namun hal ini justru mencampurkan adukan niat ibadah kepaada Allah, dengan niat ingin bagus di depan orang lain. Begitu! Selamat membaca! Semoga bermanfaat.πŸ™‚

Sesungguhnya seseorang itu walaupun telah menyembunyikan amalan zhahirnya terkadang tetap saja ada perasaan kalau orang lain harus tau akan hal tersebut. Yaitu, dengan ucapan-ucapan yang sangat halus dan lembut darinya. Sedang orang lain tidak tau bahwa dia sudah sengaja menghaluskan dan melembutkannya. Misalkan, yang seharusnya orang-orang membaca tasbih (subhanallahu) dan istighfar (astaghfirullah) secara sembunyi-sembunyi (tidak mencolok), tapi malah pada dirinya hal itu harus digerak-gerakan melalui kedua bibirnya ke kanan dan ke kiri agar orang lain melihat bahwa dia sedang berdzikir. Atau, menggoyang-goyangkan badan dan kepalanya. Atau, berdesis sewaktu-waktu supaya orang lain memperhatikan dan mendengarnya. Atau, bisa jadi ketika dia adalah seorang ustadz yang sedang berceramah, lalu si Ustadz memperbagus naik turun intonasinya agar penampilannya menjadi bagus di depan orang lain, dan orang lain akan terkesima mendengarnya. Semua itu tadi tidak lain dan tidak bukan akan membuat si Pelakunya menjadi senang karena orang lain akan memuji dan menyanjungnya. Ketahuilah, ini adalah suatu bentuk yang disebut sebagai retorika. Yaitu, ketika seseorang harus melakukan suatu perbuatan itu dengan baik, kemudian dia menghaluskannya dan melembutkannya di depan orang lain, maka orang lain itu akan mengangap baik pada dirinya, inilah retorika tersebut. Sayang, hal tersebut bisa merusak niat. Padahal segala amal itu tergantung dengan niat, dan setiap orang akan mendapatkan pahala sesuai dengan apa yang diniatkannya.

Tapi, jika ada seseorang yang mengerjakan amalan-amalan tersebut bukan bermaksud karena riya’, maka hal tersebut tidak bermadharat baginya. Namun, jika ada orang yang mengerjakan amalan sudah dengan sembunyi-sembunyi (tidak mencolok) agar tidak terjadi riya’, tapi karena tidak ingin orang lain kecewa ketika melihat ibadahnya, maka dia pun memperhalus dan memperlembut penampilan ibadahnya, jikalau seperti itu maka hal tersebut memberi arti bahwa dia telah mengkombinasikan antara riya’ dan berpura-pura ikhlas secara sekaligus. Padahal Allah telah berfiman,

Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah’ sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Al-Mulk: 13-14)

Adapun juga ketika seseorang di antara mereka dihidangi makanan, lalu berkata dengan santunnya, β€œmaaf saudaraku, saya tidak ikut makan, karena ini hari kamis.” Seakan-akan dengan hal ini dia hendak mengisyaratkan bahwa hari itu sudah menjadi kebiasaannya berpuasa. Padahal sesungguhnya Nabi kita telah menyunahkan bahwa barang siapa diundang untuk makan-makan, maka jika dia tidak berpuasa, hendaknya dia memakannya. Tetapi , jika dia sedang berpuasa, hendaknya dia mendo’akan kebaikan bagi mereka34. Misalnya dengan membaca do’a, β€œSemoga Allah memberkahi bagi kalian dalam makanan dan minuman kalian serta apa yang dianugerahkan kepada kalian.” Atau do’a-do’a yang semacamnya. – Jadi seharusnya dia tidak perlu membicarakan hal itu, karena cukup baginya untuk tidak datang pada undangan tesebut, karena ada penghidangan makanan mesti ada undangannya. Tidak mengapa tidak hadir, sebagai bentuk balasannya kita mendo’akannya. Kecuali pada “undangan pernikahan” Islam menekankan untuk menghadirinya meski kita berpuasa, tapi di saat pesta makan, kita tidak perlu ikut makan, hal itu tidak dilarang. Tapi menurut Mas Odi sebaiknya ikut makan saja tapi sebenarnya tidak makan, ya dengan minum minuman kemasan tapi tidak diminum beneran, hanya sebagai bentuk ikut menikmati kebahagiaan si Pengantin dan tidak mengecewakannya. Jika ditawari makanan, beralasan kenyang saja. Namun jika puasa sunah tersebut bukan kebiasaan kita, maka batalkan saja, sama-sama akan mendapat pahala di sisi lain.(red.)πŸ˜‰

34. Dikeluarkan oleh Muslim (1431) dan Ahmad (7691) dari hadits Abu Hurairah, bahwa Nabi bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian diundang (makan-makan), maka penuhilah. Jika dia sedang berpuasa, maka sambunglah silaturahminya dan jika dia tidak berpuasa, maka makanlah.” Tentang sabda Beliau, “Maka sambunglah silaturahminya …” Imam An-Nawawi berkata bahwa jumhur ulama mengatakan, “Maknany adalah hendaknya dia mendo’akan supaya tuan rumah menapatkan ampunan, keberkahan, dan hal-hal yang baik lainnya.” Syarh An-Nawawi terhadap shahih Muslim (IX/236).

Sumber: Buku 20 Pintu Riya’ karya Dr. Salman bin Fahd.

Comments»

1. newseries - April 12, 2014

waduuh… Saya pernah tuh di undang sahabat saya di acara ultah dia di sebuah restoran cepat saji.. Krn saya dkt sekali dgn dia dan dia sangat menginginkan saya datang .. Ya saya datang meski saat itu saya sedang puasa.. Dilema juga sih… Klu kita ngga datang takut di kira sombong .. kalau sudah di hidangkan makanan dan kita ngga makan tanpa memberi alasan juga nanti di kira kita sok idih … Gimana dong… ?

Mas Odi - April 12, 2014

oya! memang beda undangan personal sama undangan umum. kalo undangan umum kan gak apa gak datang, paling yang lain bisa wakilin. tapi kalo personal begitu ya mau gak mau harus jujur. kan katanya teman dekat. mesti itu bukan hal yang sulit. mesti teman dekat itu lebih pengertian. nah, memang sudah seharusnya begitu. diantara teman dekat jangan sampai terjadi hal-hal yang ditutup-tupin. itu hanya terjadi kalo kita sudah mempertimbangkan baik buruknya sedemikian rupa. jadi ya biasa aja, secara dia teman dekat gitu loh. biasa aja.πŸ˜‰

2. killbill1 - April 22, 2014

teman saya malah bilang bahwa: justru Riya’ tertinggi adalah saat dalam hati terbersit perasaan seolah-olah TIDAK ingin terlihat berbuat riya’ dalam tindakan atau ucapan pada ibadah yang dilakukan


Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: