jump to navigation

Pintu Riya’ yang Ke-4: Tidak Beramal Karena Manusia April 4, 2014

Posted by Mas Odi in Uncategorized.
trackback

Sebagaimana kasus pintu riya’ yang kemarin (penyakit riya’ akan muncul setelah ikhlas), yaitu saat kita sedang asik-asiknya beribadah dengan ikhlas, lalu di tengah perjalanan kita merasa diperhatikan manusia, sehingga membuat diri kita sibuk memperbaiki sikap di hadapan manusia agar tidak ada cacat waktu beribadah. Esok harinya, hati kita merasa was-was kalau-kalau kita telah melakukan pamer di depan manusia kemarin, akhirnya, kita tidak mau melakukan ibadah itu lagi selama ada manusia yang melihat.😦

Nah! kali ini gak jauh beda pembahasannya dengan yang kemarin. Pintu riya’ yang satu ini adalah kelanjutan dari kasus pintu riya’ yang kemarin. Jadi bahasan kali ini akan difokuskan terhadap dampak negatif jangka menengah dan jangka panjangnya. Oke deh! Langsung aja kita ikuti isi kutipannya. Semoga bermanfaat.😀

Terdapat pernyataan yang sangat keras dari Al-Fudhail bin ‘Iyadh bagi orang yang tidak mau beramal karena manusia. Beliau berkata, “Tidak beramal karena manusia adalah riya’, beramal karena manusia adalah syirik, sedangkan ikhlas itu adalah Allah menyelamatkanmu dari keduanya.”

Misalnya, ada di antara manusia yang ingin datang lebih dahulu ke masjid, tetapi ketika orang-orang melihatnya dia kemudian menjadi malu dan takut riya’. Sehingga dia datangnya sering mendapatkan shalat jama’ah, kemudian hal ini menjadi kebiasaannya. Sehingga, bersegera datang ke masjid menjadi sesuatu yang sangat berat bagi dirinya.

Dan di antara mereka ada yang senang membaca Al-Qur’an dan menghafalnya. Namun, ketika manusia melihat atau mendengar bacaannya atau memanggilnya sebagai qari’, membuat dia takut kalau-kalu itu menimbulkan riya’, kemudian dia malah tidak membaca Al-Qur’an lagi.

Mungkin juga ada seorang penceramah, qari’, pengajar atau da’i, yang meninggalkan semua aktivitas tersebut gara-gara takut riya’. Ini adalah kesalahan besar. Memang benar, seseorang itu harus memutus semua niat untuk beribadah karena manusia, akan tetapi dia tidak boleh meninggalkan suatu amalan karena manusia, sebagaimana pula dia tidak boleh mengerjakan suatu amalan karena mereka.

Mungkin salah satu faktor penyebabnya adalah karena mereka berpandangan bahwa amalan yang dikerjakan itu sangat besar, seperti berkhutbah jum’at, menyampaikan kultum (kuliah tujuh menit) sehabis shalat serta beramar ma’ruf dan nahi mungkar. Kemudian dia berangan-angan bahwa amalan ini sangat mulia, orang-orang akan membicarakan ucapannya dan menjadikan bahan pembicaraan di dalam majelis-majelis.

Oleh karena itu, dia merasakan ada penyakit ujub (berbangga diri) di dalam dirinya sehingga dia takut kalau hal itu menjadikannya riya’. Dia berpendapat, bahwa jalan selamat adan terbebas darinya adalah dengan meninggalkan seluruh amalan tersebut, selanjutnya ia memutuskan tidak mau berkhutbah. Dan, mengisi pengajian lagi. Ini adalah perangkap iblis sejak dahulu.😦

Adapun, solusi yang terbaik adalah dengan tetap membiasakan mengerjakan amalan-amalan shalih yang disertai dengan anggapan bahwa amalan itu tidak ada nilainya bagi dirinya. Dan membiasakan untuk tidak besar kepala dengan komentar orang lain, dengan terus-menerus mengintropeksi diri tentang amalannya yang masih sedikit dan rendah serta kekurangan-kekurangan yang ada padanya. Sehingga, jika ia mendapatkan pujian dan sanjungan yang tidak ia meinta dan harapakan, maka hal itu tidak berdampak buruk baginya.

Bahkan, hal itu sebagaimana disabdakan oleh Nabi dalam hadits berikut,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Apa pendapatmu tentang seseorang yang beramal kebaikan kemudian dia mendapat pujian dari manusia?”. Beliau menjawab, “Itu adalah kenikmatan yang disegerakan bagi seorang mukmin.33

33. Dikeluarkan oleh Muslim (2642) dari hadits Abu Dzar. …

Sumber: Buku 20 Pintu Riya’ karya Dr. Salman bin Fahd. Penerbit: Arafah, Tahun: 2005, Solo.
Referensi: http://regasaputralyoen.wordpress.com/2013/04/09/ibadah-karena-allah-swt-vs-ibadah-karena-manusia/ —> Sebagai pelengkap kalimat hadits Imam Muslim no. 2642 tersebut di atas.

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: