jump to navigation

Pintu Riya’ yang Ke-3: Penyakit Riya’ Akan Muncul Setelah Ikhlas March 28, 2014

Posted by Mas Odi in Uncategorized.
trackback

Kita telah mampu menghindar dari perbuatan pamer dan dusta sebagaimana mereka adalah pintu riya’ yang ke 1 dan 2. Lalu kita pun sudah bisa memaksimalkan ibadah dengan keikhlasan. Namun, pada prosesnya mengelola keikhlasan dalam beribadah tetaplah bukan hal yang mudah. Bisa jadi dalam kondisi kita sendirian di rumah masih bisa mengelola keikhlasan itu secara penuh terhadap ibadah yang sedang dilakukan, akan tetapi, bagaimana kondisinya apabila di sekeliling kita terdapat orang lain, apakah kita bisa mengelola keikhlasan saat itu?

Yang mana saat itu kita sudah masuk dalam kondisi keikhlasan dalam beribadah, namun di saat yang sama rupanya tanpa disadari pikiran kita juga sedang sibuk mengelola sikap dalam beribadah agar tampil sempurna di depan para manusia, karena sejatinya memang kita tidak ingin tampil cacat di depan mereka semua.

Nah! Di situ saja riya’ dengan persentase ringan sudah masuk. Yang jeleknya, di kemudian harinya kita menjadi was-was ketika melakukan amalan tersebut, sehingga ketika ada orang di sekeliling kita, maka kita memutuskan untuk meninggalkan amalan ini.😦

Padahal kan, meninggalkan ibadah karena manusia justru itulah riya’😥

Tuh kan! Betapa banyak jalan masuk penyakit riya’ ini. Pantes aja definisi dan pengertian dari riya’ itu sendiri banyak sekali jumlahnya. – Beda ulama, beda definisi dan pengertian.

Oke! Kali ini bahasan kita akan difokuskan kepada orang-orang yang beribadah dengan ikhlas, tapi, ketika di depan manusia dia sengaja tidak melakukan amalan tersebut.

Yuk, kita langsung ikuti pembahasannya ya. Semoga bermanfaat😀

Berikut kutipannya:

Maksudnya adalah mula-mula seseorang itu beramal hanya karena mengharap wajah Allah. Dia shalat, bersedekah atau berdzikir hanya karena Allah. Tetapi, tatkala dia tahu bahwa orang-orang sedang memperhatikan atau mengawasi dirinya, maka dia kemudian menambah amalannya, memanjangkan shalatnya lebih panjang dari apa yang dia niatkan, bersedekah lebih banyak dari apa yang dia niatkan atau berdzikir lebih serius dari sebelumnya. Jika sudah seperti ini, maka dia harus mengusir penyakit riya’ dari dirinya, kemudian berdoa sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi kepada Abu Bakar untuk menolak penyakit riya’, yang artinya:

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedang aku mengetahui dan aku memohon ampun terhadap apa yang tida aku ketahui.32

Jika penyakit riya’ telah mengakar dalam hatinya kemudian dia menambah amalannya karena (ingin dipuji) manusia, maka baginya salah satu dari dua keadaan:

  1. Jika amalan itu dapat dibagi-bagi, seperti orang yang bersedekah dengan uang 200. Uang 100 yang pertama dia sedekahkan karena hanya mengharap wajah Allah, sedangkan uang 100 yang kedua dia sedehakan karena riya’ dan sum’ah (ingin amalannya didengar oleh orang lain), maka uang 100 yang pertama akan sampai kepada tempatnya (berpahala), sedang yang kedua tidak akan berpahala, bahkan akan mendapat dosa.😦
  2. Jika amalan itu tidak dapat dibagi-bagi, misalnya seperti shalat, maka amalannya tidak berpahala, bahakan karena penyait riya’ ini shalatnya menjadi batal.😥

Sebaliknya, ada sebagian di antara mereka sangat takut bila penyakit riya’ hinggap pada dirinya, kemudian rasa takutnya itu terus-menerus bertambah dan menjadi-jadi, sehingga berubah menjadi perasaan was-was. Dan karena begitu ekstrimnya rasa takut tersebut malah membuat dia terjerumus ke dalam penyakit riya’ itu sendiri, ya dengan dia berusaha semaksimal mungkin untuk tidak melakukan amal tesebut di depan orang lain. Maka dia seperti yang dikatakan dalam pepatah,

Dia lari dari kematian, padahal kematian itu nyata.*

Sesungguhnya tempat ikhlas yang sempurna adalah merasa selalu diawasi oleh Allah, dan berpaling serta memutus secara totalitas dari manusia. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali dia beramal karena manusia dan meninggalkan amal tersebut juga karena mereka.

*Kita tidak tau ajal kita sampai dimana, dan kita pun tidak tau seberapa banyak amal yang kita punya. Maka selayaknya jangan menyia-nyiakan kesempatan untuk beramal. Sedang sengaja tidak beramal karena manusia, justru itu riya’ kata ulama. Lebih baik tetap beramal pada saat itu, karena belum tentu pada prosesnya kita selalu diserang oleh riya’, bisa jadi kita selamat darinya.

32Dikeluarkan oleh imam Bukhari dalam “Al-Adab Al-Mufrad” (716) dan At-Tirmidzi dalam “Nawadir Al-Usul” (IV/224) dari hadits Abu Bakar As-Shidiq. … Dan hadits ini telah dishahikan oleh Al-Albani dalam “Shahih Al-Adab Al-Mufrad” (554)

Comments»

1. warungasep - March 29, 2014

Duh maaf baru baca artikel ini,mantap mas Odi🙂
http://warungasep.wordpress.com/2014/03/29/ini-gitarku-mana-gitarmu-2/

Mas Odi - March 29, 2014

rapopo kang.😀


Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: