jump to navigation

Pintu Riya’ yang ke-1: Memamerkan Amalan March 15, 2014

Posted by Mas Odi in Uncategorized.
trackback

Alhamudulillah, rampung juga mengutipnya. Meskipun kepikiran sama penerbit buku ini kalo gue belum izin sama mereka. Memang ini bukan komersialisasi, dan baru sedikit halaman yang dikutip, juga buku ini sudah dekat 10 tahun terbitnya, tapi tetap harus izin supaya pihak manapun gak merasa ada yang dirugikan, ya kan! Masih dalam pengupayaan bro.

Singkat kata, ini tentang pintu riya’ ke 1. Pintu itu adalah memamerkan amalan. Sudah cukup di situ doang sebenernya mas bro sekalian sudah paham kan! Tapi tulisan kali ini akan membahas lebih mendalam tentang apa sih yang dimaksud memamerkan amalan? Apakah kita termasuk orang yang memamerkan amalan? Gimana supaya kita tidak memamerkan amalan atau mencegah memamerkan amalan? Let’s check it bro! Semoga berguna😀

Sebagian besar manusia suka menceritakan amalan-amalan dan menyebar luaskan kelebihan-kelebihannya. Setiap kali duduk di tempat umum niscaya dia akan mengatakan, “Saya telah mengerjakan ini dan saya telah bersedekah dengan ini,” seraya menambahkan, “Saya sebenarnya tidak mampu mengerjakan shalat malam lebih dari dua jam dan juga tidak mampu berpuasa setiap hari. Akan tetapi, cukuplah bagi saya berpuasa sunah senin dan kamis saja.” Padahal, tujuan sebenarnya adalah ingin memamerkan amalan-amalannya dengan cara menyebutkan ibadah shalat malam dan puasanya.

Mungkin juga dia sengaja ingi memperlihatkan amalannya, kemudian mengerjakan amalan tesebut di depan manusia dengan tujuan supaya mereka melihat dan memujinya. Padahal, prinsip dalam ibadah yang sebenarnya adalah hendaknya seseorang itu menyembunyikan ibadahnya karena hal ini lebih dekat kepada keikhlasan dan lebih menjauhkan diri dari penyakit riya‘.

Nabi bersabda,

Wahai manusia, shalatlah di rumah-rumah kalian, karena sebaik-baik seorang laki-laki mengerjakan shalatnya adalah di rumahnya, kecuali shalt yang wajib.*

Oleh karena itu, sunah dalam mengerjakan shalat-shalat yang nafilah (sunah) adalah hendaknya seseorang itu mengerjakannya di rumah secara sembunyi-sembunyi. Karena hal itu dapat mengusir setan. Dan mlenjadikan rumah agar tidak seperti kuburan, lantaran tidak pernah dipakai untuk mengerjakan shalat, mendidik keluarga dan anak-anaknya supaya terbiasa mengerjakan shalat serta menjauhi penyakit riya’. Hal ini, tidak termasuk shalat-shalat suna yang telah disyari’atkan agar dikerjakan secara berjama’ah, seperti shalat gerhana matahari, gerhana bulan, Istisqa’ (meminta hujan), hari raya ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha – bagi orang-orang yang berpendapat bahwa hukum kedua shalat tersebut adalah sunah (kalau mas odi ambil pendapat ulama yang mengatakan wajib saja, red.) – shalat terawih dan shalat-shalat sunah yang lainnya.

Contoh lain dari amalan yang perlu dikerjakan secara sembunyi-sembunyi adalah bersedekah. Allah berfirman,

Jika kalian menampakkan sedekah kalian, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikannya itu lebih baik bagi kalian … (Al-Baqarah: 271)

Jadi, prinsip dalam bersedekah adalah menyembunyikannya. Maka, jangan sekali-kali dia menampakknya, kecuali jika bisa merasa aman dari penyakit riya’, dan dia melihat bahwa ada kebaikan dan kemaslahatan dalam menampakkannya. Misalnya, untuk memotivasi orang-orang supaya gemar bersedekah, menghidupkan sunnah, membikin marah musuh (Allah, red.) dan tujuan-tujuan baik lainnya yang telah disyari’atkan. Adapun memperlihatkan amalan selain dengan tujuan-tujuan tersebut, maka ia bertentangan dengan syari’at.

Misalnya, seseorang yang bersedekah atau mengerjakan amalan-amalan baik lainnya dengan tujuan agar namanya diumumkan dalam koran-koran, bahwa dia adalah orang yang sangat baik, dermawan, dia telah menyumbangkan barang, mengerjakan seperti ini atau supaya namanya dicatat dalam pernyataan resmi. Semuanya ini memang kadang kala bisa berdampak positif bila seseorang meniatkan untuk suatu kebaikan, seperti: untuk memotivasi dan menyeru manusia supaya gemar bersedekah, berlomba-lomba dalam hal yang ma’ruf, mebikin marah murh, dan niat-niat baik lainnya.

Jadi, esensi itu semua tergantung dari amalan hati, sebagaimana sabda Nabi,

Sesungguhnya segala amalan itu tergantung niatnya. Dan setiap orang itu akan mendaptkan balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya …. **

Dan Allah berfirman,

Rahasiakanlah perkataan kalian atau lahirkanlah. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kalian lahirkan dan rahasiakan?); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui. (Al-Mulk: 13-14).

*Dikeluarkan oleh Bukhari (713) dari hadists Zaid bin Tsabit
**Dikeluarkan oleh Bukhari (1) dan Muslim (1907) dari Umar bin Khathab

Sumber: Buku 20 PINTU RIYA’ Karya DR.Salman bin Fahd

Comments»

1. Ms Dhukha - March 15, 2014

Bisa mengarah ke syirik ya mas bro… Ibadah karena ingin dipuji, bukan karena Allah…

Mas Odi - March 15, 2014

Bener banget. Riya’ kan adalah syirik paling kecil. Waspadalah waspadalah😀

Ms Dhukha - March 15, 2014

Ya mas bro, syirik bagaikan semut hitam yang berjalan diatas batu hitam di gelapnya malah… Jadi tdk tampak tapi sebenarnya ada…

Mas Odi - March 15, 2014

Serem😦

atlantison - March 15, 2014

Klo ibadah kita dipuji manusia ya Alhamdulillah, klo ga ya gpp lah, woles aja… Ibadah Sholat itu bisa dilihat orang jadi peluang riya sangat terbuka lebar. Klo puasa ga ada yg lihat. Dan ibadah2 lainnya ada yg bs dilihat & ada yg tidak dilihat manusia

Kita harus nunjukin ke anak2 klo kita rajin ngaji spy anak2 mengikuti, katax perilaku lebih diikuti anak2 drpd omongan…

http://www.rumahfiqih.com/m/x.php?id=1172972653&=ibnu-hajar-dan-imam-nawawi-vs-bin-baz-tentang-hukum-isbal.htm

Titip lapak ya

http://atlantison.com/2014/03/15/rizki-bukan-gaji-episode-kataping-pariaman-part-2-mpv-kereta-wisata/

Mas Odi - March 15, 2014

Iya. Masalah riya ini masalah hati. Tergantung yang punya hati aja lagi kan.😀

2. newseries - March 15, 2014

waduuh… Saya jadi ngeri…

3. potretbikers - March 15, 2014

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: