jump to navigation

Kata Pengantar Buku 20 Pintu Riya’ Karya Dr. Salman bin Fahd Al-Audah March 7, 2014

Posted by Mas Odi in Uncategorized.
trackback

Siapa sih yang tidak wawas dengan dirinya jika terkena penyakit riya’ bro! Amal shaleh yang sedang dibangun, sedang dilakukan, sedang ditabung, dan yang sudah dilakukan alias sudah ditabung pun bisa batal seketika. Dan yang lebih ditakutkan lagi bahwa kita pun secara tidak langsung malah akan semakin jauh dari Allah, Tuhan Yang Tidak Ada Sekutu Bagi-Nya. Oleh karena itulah gue rasa ini penting untuk kembali diangkat sebagai tema tulisan religi kali ini.

Alhamdulillah untuk tulisan kali ini gue cukup mengutip sebuah buku yang berjudul 20 Pintu Riya karya Dr. Salman bin Fahd Al-Audah, dengan penerbit Pustaka Arafah – Solo, tahun 2005. Hitung-hitung si penulis blog gak perlu menguras pikiran yang berarti, dan tingkat keilmiahan tulisan pun lebih berbobot juga bermanfaat, insya Allah.🙂

Oke! Dari pada kepanjangan dan gak kebayang ngebayangin 20 pintu riya’ itu gimana? Sebaiknya kita baca dulu kutipan di bawah ini yang dikutip langsung dari kata pengantar buku tersebut. Insya Allah di next artikel religi direncanakan akan mengurai 1 per 1 dari 20 pintu riya’ tersebut. Semoga bermanfaat.😀

(red.) Bismillahirrahmanirrahim,

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada teladan mansia, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, beserta para sahabat dan orang-orang shalih yang mengikuti jalan Beliau.

Kala hati berlumur dosa, maka yang lahir adalah perbuatan-perbuatan buruk dan tercela. Karena, perbuatan anggota badan merupakan cerminan hati. Yakni bila hati seseorang baik, niscaya akan baik pula seluruh perbuatannya. Demikian sebaliknya.

Namun, tahukah kita kebaikan isi hati seseorang dengan pasti? Apabila kita melihat orang yang beramal baik, misalnya, apakah ada kepastian bahwa, hal itu dilakukan dengan ikhlas? Bisakah niat itu dipertahankan sejak beramal, ketika beramal hingga sesudah beramal? Begitu pun halnya dengan diri kita sendiri. Huwallahu ‘Alam.

Betapapun, keikhlasan niat harus selalu diupayakan untuk senantiasa dipertahankan. Sebab, sebentar saja kita lalai dan lengah maka penyakit hati akan segera merasuki dan menjangkiti. Dan, di antara penyakitnya yang paling ganas adalah riya’.

Riya’ dalam perkataan maupun perbuatan merupakan salah satu penyakit yang mematikan keikhlasan. Bahkan, bisa menghapus pahala amal shalih tanpa disadari oleh pelakunya.

Begitu bahayanya penyakit riya’ hingga kita wajib mewaspadainya. Demkikian pula, kita perlu mewaspadai semua jalan, faktor-faktor, dan semua pintu masuk serta bentuk-bentuknya. Sehingga, kita bisa menjaga diri darinya.

Pembaca yang budiman, dalam buku ini kita akan menikmati sajian ‘penyehat jiwa raga’. Yakni, hidangan sehat nan bermanfaat yang mengupas pintu-pintu masuknya riya’ ke dalam diri seseorang. Semoga, hadirya buku ini bisa memperkuat pilar-pilar pustaka Islam dan bermanfaat bagi kita semua.

Solo, juli 2005

Comments»

1. potretbikers - March 7, 2014
2. warungasep - March 8, 2014

Saya juga nyimak,sangat menarik…🙂

3. IFAN JAYADI - March 8, 2014

Jangan sampai ya sifat riya ini mendominasi kehidupan kita. Tetapi memang kadang-kadang tanpa disadari kita bisa terjebak pada sifat ini jika tidak cermat dan hati2 dalam menyikapinya.

Mas Odi - March 8, 2014

Setuju! Nih sifat susah bener hilangnya, mustahil buat hilang. Namanya juga fitrah manusia kan. Kita hanya bisa memperkecil frekuensinya. Ya mudahan aja Allah Ridho dengan apa yang sudah kita usahakan.😀


Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: