jump to navigation

Rahmat Allah Itu Terlalu Mahal dan Terlalu Banyak Sehingga Jarang Kita Pikirkan Juga Jarang Kita Syukuri February 10, 2014

Posted by Mas Odi in Uncategorized.
trackback

Di mata kita mahal itu seperti berlian. Mahal itu seperti mobil lamborghini. Tapi unsur pembentuknya gak bisa sebanding dengan hasil akhirnya. Seperti besi, plastik, karet, kaca, dan lain semacamnya, berharga sangat murah dibanding setelah unsur tersebut diproses menjadi sebuah mobill. Kenapa bisa mahal? Karena proses pembuatannya. Ada biaya yang harus dibayar untuk jasa pembuatan produk tersebut.

Ternyata hukum alam manusia sudah membuat kita lupa untuk menilai dari sisi hakikatnya. Manusia memberi nilai ini murah dan itu mahal agar bisa mengambil manfaat lebih. Kemudian bisa terjadi keseimbangan perdagangan, dan bisa terjadi proses jual beli. Konsekuensinya, memiliki barang dengan harga yang mahal adalah tuntutan buat kita. Karena kita butuh aset yang dapat dijual di masa depan. Dan kita butuh investasi jangka panjang buat tabungan anak dan cucu kita kelak. Sehingga merugi rasanya kalau tidak memilikinya.

Andai saja unsur air itu gak pernah ada di bumi ini, manusia gak bakalan bisa bikin mobil lamborghini. Manusia gak bisa menikmati indahnya kilauan berlian. Malahan gak ada air itu, gak ada kehidupan! Semua akan mati. Tidak ada yang bisa bercocok tanam. Maka penting banget kan air itu buat kita. Tapi nilainya di sisi manusia begitu murah, bahkan gak berharga sama sekali.

Sebagian manusia sadar kalau harga air itu seharusnya mahal jika diperjual belikan. Justru di dalam hakikatnya gak ada yang bisa membeli air itu kecuali Allah yang memberinya. Tapi akal manusia sudah lupa. Manusia hanya berpikir kalau air itu gak mungkin hilang begitu saja. Gak ada air, sama aja kiamat. Kemudian mereka berbondong-bongong menyelematkan air itu dari pencemaran lingkungan, meyimpannya, supaya mereka bisa tetap minum. Namun di situlah manusia dibuat sombong dengan apa yang diusahakannya. Bangga dan lupa dengan apa yang sudah Allah berikan. Sebagian lagi dari mereka malah gak peduli kalau air itu berharga. Apalagi air itu adalah rahmat. Mereka semena-mena mempergunakan air; mereka mencemarinya.

Itulah rahmat Allah bro! Terlalu banyak rahmat Allah. Rahmat Allah terlalu mahal harganya. Rahmat Allah adalah segala ciptaan-Nya. Rahmat itu hanya ada pada sisi-Nya semata. Manusia tidak mungkin membuat rahmat, dan tidak mungkin mampu membelinya. Oleh karena itu, Allah limpahkan rahmat kepada mahluk-mahluk-Nya. Ada yang tampak oleh mata kita, tapi banyak yang gak tampak di mata kita. Rahmat Allah tidak hanya dapat dilihat, tapi lebih bisa dirasakan, dinikmati, dan disyukuri dengan ketulusan hati dan iman. Sebab itu jarang kita pikirkan kalau rahmat itu mahal, air itu mahal.

Air tidaklah mahal di satu sisi. Karena kita sanggup membeli air. Kalau perlu gak usah beli; tinggal taruh ember di teras rumah, saat hujan turun baru deh air akan kita dapatkan. Sungguh murah! Sungguh gratis lagi! Begitulah manusia, duluan akalnya yang berbicara.

Andai saja kita hanya memiliki harta 10 juta rupiah, kemudian Allah yang Maha Rahmat berkata, akan Aku tambahkan hartamu itu 10.000x lipat, dengan syarat kamu tidak boleh memakan garam. Kata Allah lagi, akan Aku tambahkan tambah hartamu itu 70.000x lipat, dengan syarat kamu tetap tidak boleh memakan garam, tapi kamu juga tidak boleh memakan gula dan lombok. Apakah kita rela? Kaya raya harta melimpah, sedangkan lidah kita tidak boleh sedikit pun merasakan asin, manis, dan pedas. Apa nikmatnya makan tapi tawar dan kecut saja.

Subbhanallah! Di situlah kekayaan Allah tersingkap. Yang kaya hanyalah Allah semata pada hakikatnya. Allah yang Maha Kaya sangat mudah melimpahkan harta triliyunan dollar kepada hamba-hamba-Nya. Akan tetapi hakikatnya kita tetap miskin. Karena rahmat-Nya lah baru ada garam, gula, lombok dan segala yang berlimpah di muka bumi ini. Arti sesungguhnya, air, garam, gula, dan lombok, hakikatnya sangat mahal harganya. Kita bisa memakannya berarti kita sudah diberikan kekayaan oleh yang Maha Kaya. Kalau uang, itu hanyalah usaha dari apa yang kita kerjakan. Kita tanam bibitnya, kita putik buahnya, lalu kita jual; usaha itulah yang jadi uang. Kemudian garam, air, lombok, kita masak, jadilah masakan, lalu dijual; itulah yang jadi uang.

Di dompet gak ada uang, kita tetap kaya hakikatnya. Karena hakikatnya rahmat yang Allah berikan ke kita melimpah di mana-mana, dan itu sangat mahal harganya. Sudah sepatutnya buat kita sering-sering mensyukurinya. Jangan mudah untuk terbuai dengan hiruk-pikuk duniawi. Kata dunia, tanpa uang mau makan apa? Yang bener itu, gak ada usaha, gak ada makan!

Maka sudahkah kita mengingat nikmat-Nya? Mensyukuri nikmat-nikmat-Nya? Mentaati perintahnya? Karena hakikatnya, Allah bisa saja mencabut rahmat-Nya jika Ia inginkan. Bisa jadi Allah jadikan kiamat sekarang. Kiamat itu berbentuk kematian buat kita. Bisa jadi kiamat itu adalah kesombongan akal kita, kita tersesat, dan kita wafat dalam keadaan kufur. Semoga Allah lindungi diri kita dari perkara tersbut. Dan semoga Allah karuniakan kepada kita jiwa-jiwa yang mudah bersyukur. Amin.

Comments»

No comments yet — be the first.

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: